Bayi Adaptasi Baru Lahir. Oleh : dr. Francisca Y.M.K., Sp.A

Diperbarui: 11 Nov 2020


Bayi Adaptasi Baru Lahir

Bagaimana Menilai Kegagalan Adaptasi Bayi Baru Lahir?


Semua bayi baru lahir akan masuk ke dalam lingkungan barunya di luar rahim. Lingkungan di luar rahim ini menuntut setiap bayi untuk memenuhi kebutuhan dasar seorang bayi baru lahir dengan kekuatannya sendiri, untuk dapat tetap hidup.

Proses persalinan merupakan batas waktu dari setiap bayi dalam mendapatkan kebutuhan dasarnya. Sebelum dilahirkan ia mendapatkan semua yang dibutuhkaannya dari Bunda melalui perantara ari-ari dan talipusar, lalu begitu bayi dilahirkan maka ia harus memenuhi kebutuhan awalnya secara mandiri.

Kebutuhan dasar ini meliputi: pemenuhan oksigen yang cukup diiringi dengan kemampuan membuang zat sisa hasil dari proses pernafasannya, dan kemampuan dalam mempertahankan kehangatan badannya. Tiga kebutuhan ini harus mampu dipenuhi secara mandiri oleh setiap bayi di jam-jam awal usianya, dan proses ini dinamakan Proses Adaptasi.

Organ-organ penting yang secara langsung berperan dalam menentukan berhasil atau tidaknya setiap bayi melalui proses adaptasi ini antara lain: organ pernafasan, jantung dan pembuluh darah, serta kerja otak yang telah matang. Jika terdapat kelainan pada organ tersebut, maka setiap bayi akan memiliki risiko mengalami kegagalan dalam melalui proses adaptasi di awal kehidupannya.

Sebagian besar bayi cukup bulan (dilahirkan pada usia kehamilan 37 -40 minggu), yang baru saja dilahirkan akan mampu melewati proses adaptasi ini dengan baik. Tanda-tanda bayi mampu melewati masa ini antara lain:

1. Menangis kuat dan gerakan aktif

2. Mampu bernafas dengan teratur, tidak tampak sesak

3. Permukaan seluruh tubuh tampak segar dan kemerahan, atau pada beberapa bayi

lainnya terdapat perubahan warna permukaan tubuh dari pucat/kebiruan menjadi

segar dan kemerahan

4. Suhu tubuh akan kembali hangat dengan mudah


Bayi-bayi yang mampu beradaptasi di awal kelahiran, pada umumnya akan mampu melanjutkan kehidupannya. Ia akan mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan kemampuannya menetek pada ibu (melalui refleks hisap yang baik), dimana nutrisi ini akan diserap oleh kemampuan saluran cerna yang telah matang dan berfungsi dengan baik, dan selanjutnya oleh organ saluran cerna bagian dalam (usus, hati, pankreas) akan diolah sehingga dapat berfungsi dalam memenuhi kebutuhan energi bagi proses kehidupannya.

Sayangnya, pada sebagian kecil bayi-bayi baru lahir, mereka mengalami kegagalan dalam melalui proses adaptasi di awal usianya. Berikut tanda-tandanya:

1. Tidak terdengar tangisan, atau terdengar tangisan berupa rintihan lemah

2. Tampak sesak, dimana bayi terlihat menarik nafas dalam, terdapat cekungan di area

ulu hati saat bayi menarik nafas, dan bayi bernafas cepat melebihi kecepatan nafas

bayi sehat lain. Pada cuping hidung tampak kembang yang lebih lebar, pada saat

menarik nafas.

3. Gerakan tidak aktif, atau tidak terlihat gerakan apapun

4. Warna permukaan tubuh bayi pucat atau bahkan biru, dan tidak ada perubahan seiring bertambahnya waktu.


Tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa bayi mengalami stres berat, dan segera harus mendapatkan bantuan medis khusus secepatnya. Kegagalan proses adaptasi ini dapat membahayakan kehidupan setiap bayi baru lahir. Baik berdampak dalam waktu singkat, yaitu kematian bayi, maupun dampak jangka panjang yaitu di usia selanjutnya ketika ia memasuki masa tumbuh kembangnya.

Berbagai faktor penyebab kegagalan setiap bayi melalui proses adaptasinya, antara lain:

1. Bayi prematur (dibawah 37 minggu) atau bayi lewat masa kehamilan (diatas 40

minggu)

2. Bayi dengan berat badan kurang atau berlebih, atau tidak sesuai dengan usia

kehamilannya

3. Bayi dengan infeksi sejak dalam kandungan

4. Adanya kelainan bawaan, misalnya: kelainan jantung bawaan, kelainan struktur otak,

saluran cerna, saluran nafas.

5. Terhirup air ketuban yang hijau dan kental

6. Proses persalinan yang tidak lancar, sehingga membutuhkan waktu yang lama

hingga bayi dilahirkan

Pada setiap proses persalinan harus selalu disiapkan baik lingkungan, fasilitas alat kesehatan dan tenaga kesehatan yang mampu memberikan bantuan bagi bayi-bayi ini, yang potensi mengalami kegagalan melalui proses adaptasi awalnya setelah dilahirkan.

Perencanaan persalinan sebaiknya disiapkan sedini mungkin, dan kontrol rutin kehamilan wajib dilakukan. Saat dilakukan kontrol rutin kehamilan, dokter akan memberikan data kesehatan bagi Bunda dan sekaligus bayi. Dengan didapatkannya data kesehatan bayi selama didalam kandungan, maka perencanaan persalinan dapat diatur lebih dini. Sehingga proses persalinan dapat berjalan dengan lancar, dan setiap bayi selalu terpantau dengan baik, dan jika ia membutuhkan bantuan selama masa adaptasinya, maka akan dapat dilakukan dengan cepat dana benar, sehingga ia dapat bertahan dan mampu menjalani hidup selanjutnya, tumbuh dan berkembang dengan optimal tanpa keterbatasan.



Oleh : dr Francisca Y.M.K., Sp.A

Spesialis Anak RS Bayukarta Karawang


#SehatBersamaBayukarta

22 tampilan0 komentar

(0267) 401818

Rumah Sakit Bayukarta